‘Galodo’ di Sumatera Barat

Berita duka kembali melanda ranah minang, kampung halaman penulis sendiri. Kamis (3/11) pukul 04.00 dini hari, ‘galodo’ menerjang daeral Pesisir Selatan dan Solok Selatan, tujuh orang diperkirakan tewas terseret arus.

Bencana terparah menimpa Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Selain banjir dan longsor, abrasi pantai terjadi di sepanjang pantai dan memutus arus transportasi Sumbar-Bengkulu.

 

Hingga berita ini diturunkan, enam orang di Pessel hilang terseret banjir bandang dan diperkirakan telah tewas. Sekitar 52.123 orang mengungsi di tempat ketinggian, 296 rumah penduduk rusak, ratusan hektare sawah rusak, puluhan ternak mati. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 650 miliar.

Sepanjang 890 meter jalan negara Padang-Bengkulu-Jambi dan 500 meter jalan kabupaten di Lunangsilaut rusak. Satu irigasi terban diterjang banjir.

Banjir melanda 48 nagari di delapan kecamatan dari 12 kecamatan di Pessel. Hanya empat kecamatan yang terhindar dari musibah itu, yakni Koto XI Tarusan, Bayang Utara, Bayang dan IV Jurai.

Selain itu, banjir juga mengakibatkan ruas jalan nasional di Pasir Putih Kambang, Nagari Kambang Barat putus sepanjang 700 meter sehingga arus transportasi dari Sumbar ke Bengkulu lumpuh total. Antrean kendaraan terlihat hingga belasan kilometer dari arah Padang dan Bengkulu.

Diperkirakan, hingga 90 hari ke depan, arus transportasi jalur selatan Sumbar-Bengkulu via Kabupaten Kerinci, Jambi ini, belum bisa dilewati.
Tidak hanya itu. Sebanyak 6 rumah terseret banjir hingga ke dalam laut, sedangkan 28 unit rumah lainnya mengalami rusak berat.

Sedangkan di Nagari Kambang Timur di kecamatan yang sama, terjadi longsor sepanjang 400 meter, tepatnya di Kampung Kapau dan Kotokandis. Walau tidak menimbulkan korban jiwa, tapi delapan rumah rusak berat tertimpa longsor.

Banjir juga terjadi di Kampung Tampunik di nagari yang sama. Kondisi serupa juga terjadi di Kampung Pulai, Nagari Lakitan Timur. Total rumah yang terendam di kecamatan ini mencapai ratusan unit.

Di Kecamatan Sutera, 4 unit rumah rusak berat. Satu di antaranya terban ke bibir jalan, tepatnya di Kampung Taratak. Rumah itu milik Emi, 52. Sedangkan yang terseret banjir rumah milik Nuralis 52, di Kampung Kayugadang, Nagari Surantiah. Dua unit lainnya milik Rajabul Iksan dan Nurhayati. Ketiga rumah ini terban ke Batang Surantiah, di Kampung Kayugadang.

“Selain itu, proyek normalisasi sungai sepanjang 600 meter di Kayugadang juga porak-poranda, padahal akan diserah terimakan besok (4/11) dengan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sumbar. Jembatan gantung di Timbulun yang merupakan sarana transportasi satu-satunya warga Langai dan Kayuaro di Nagari Sutera, juga putus diterjang banjir Rabu malam,” ungkap Rusli, tokoh masyarakat setempat.

Nasharyadi menyebutkan, bencana saat ini terparah sepanjang sejarah. “Bencana ini bukan saja banjir, tapi juga longsor dan abrasi,” ujarnya. Dampak yang ditimbulkan akibat bencana ini sangat besar, sebab bencana ini telah mengakibatkan putusnya arus transportasi Padang, Bengkulu dan Jambi.

Berdasarkan hitungan sementara, kata dia, besar kerugian mencapai Rp 650 miliar. Selain merusak infrastruktur jalan dan jembatan, juga bangunan milik masyarakat, pertanian, perkebunan hewan ternak dan lainya.

Karena terputusnya sarana jalan di Pasir Putih Kambang, akses menuju permukiman warga yang terkena banjir dan longsor sulit dijangkau. Jumlah rumah yang terendam mencapai 17 ribu unit. Sedangkan korban yang hilang sebanyak 3 orang dan 52 ribu lebih mengungsi. “Walau sulit dijangkau, kita masih bisa melakukan koordinasi melalui HP,” jelasnya.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s